pertama, yang paling cepat terasa efeknya adalah: gw nulis kata "gw" dengan ejaan "gue".
Jadi, selain di novel atau cerpen, gw selalu nulis kata "gw" dan bukannya "gue", seperti yang dibuktikan dengan tulisan-tulisan di blog ini sebelumnya. Sementara di novel/ cerpen, ejaan yang diterima itu adalah "gue/ gua", kecuali nulis SMS atau chatting. Setelah menulis draft novel, kayak berhari-hari berturut-turut, begitu nulis untuk keperluan pribadi, gw tanpa sadar nulis "gw" dengan "gue"... pas baca ulang baru ngeh, loh, kok jadi "gue"? Yeah, kebiasaan nulis di draft. Tulisan ini aja beberapa kali slip ngetiknya "gue", terus balik apus dan ganti dengan "gw" sesuai yang gw inginkan.
Dan yang kedua adalah, gw sadar barusan, pas lagi nyiapin draft postingan blog untuk penutup tahun, gw nulis dengan... "aku"! *facepalm* Dan itu kayak otomatis gitu, kayak... oh I dunno. Yeah, gitu deh. Bukannya gw keberatan atau gimana, tapi.. kayak ada yang salah hahahaha masalah konsistensi? hahahah
Jadi intinya sih cuman mo bilang, kalo suatu saat gue ... gw nulisnya pake "gue" atau bahkan "aku" atau "saya", well, kemungkinan besar, itu alasannya: kebanyakan nulis novel/ cerita. Atau apapun yang mengharuskan gw pake bahasa Indonesia yang (ejaannya) baik dan benar.
Ada saatnya gw rajin nulis cerita pendek dalam bahasa lain/ Inggris, jadi kalo tar tiba-tiba bahasanya ganti, yap, alasan yang sama. Ditambah karena gw malas nerjemahin/ revisi.
Gw ga kepikiran kalo kebanyakan nulis begitu bakal kebawa ke kebiasaan sehari-hari. Soalnya ini kan bukan motorik... atau mungkin motorik di dalam otak yah? Hmm...