8.1.17

Selama ini gw khawatir dengan menggambar background,

tapi ternyata lebih susah menggambar ekspresi wajah.  Dan gara-gara kesusahan yang baru ini, gw jadi ngga terintimidasi lagi oleh background.  Oh yes, background masih susah, tapi itu teknis ajah.  Dan engga terintimidasi lagi karena mo digambar kayak begimana pun, ya udah gituh. Digambar detil atau asal-asalan sederhana orang akan tahu itu bangku. atau ruangan. atau hutan. KECUALI mungkin kalau misalnya mau gambar bangku dari Cekoslavia abad 13, atau isi istana Versailles atau hutan lindung di Venezuela, yang kalo terperinci gituh emang ga bisa asal-asalan sederhana.

Sementara ekspresi itu interprestasi.  Jadi gw harus menggambar se... akurat mungkin dengan ekspresi yang gw inginkan tanpa menyisakan ruang untuk interpretasi ekspresi lain.  Kayak ekspresi nangis dan tertawa terbahak bisa ajah ketuker.  Ada kan ketawa yang sampe keluar air mata.

Terus lagi, ekspresi itu harus gw aplikasikan ke wajah karakter yang gw gambar, supaya apapun ekspresinya, wajahnya tetap bisa dikenali sebagai... yah sebagai si pemilik wajah, si karakter yang seharusnya.  Jangan sampe keluar "mukanya beda." Deuh.

/menghela napas dulu.

Jadi demikianlah kesadaran gw tentang: ternyata menggambar ekspresi lebih sulit daripada menggambar background.

... Gw jadi merasa dewasa dan improve... Gimana pun, jalan menuju perkembangan adalah menyadari hal yang salah.  This year is gonna be awesome! Gw bisa merasakannya hanya karena menyadari hal ini ha ha ha #sidodol

No comments:

Post a Comment