hidup ini seperti di penjara,
ga ada tujuan, ga ada arti, hanya menunggu waktu tahanan berlalu.
atau mungkin, itu kalau gw tahanannya.
karena toh tahanan-tahanan lain banyak juga yang berkarir, yang punya geng/ pengikut, yang punya bisnis, yang bisa sampe plesir keluar penjara.
hidup ini, ga ada tujuan, ga ada arti, hanya menunggu napas berhenti.
atau kalau gw berani, mengambil aksi, menghentikan sendiri.
sepertinya, kalo gw mati, lebih berguna untuk orang lain. Ga nyusahin yang masih hidup, bisa nolong yang sekarat pake donor organ, uang dan barang.
menetapkan sendiri tujuan, berhenti bertanya kenapa gw dilahirkan, gw merasa terbuat dari jelly. kenyel-kenyel, lucu, warna-warni. dan gampang hancur.
terlalu gampang.
semua potensi, minat, bakat,...
obsesi, impian dan cita-cita.
sampah.
dibuang, dibakar, polusi udara.
waktu berlalu, apapun yang terjadi.
tua, sakit, lalu mati.
tidak ada masa depan yang gw nanti.
sampai sekarang pun, gw masih berusaha bertahan
hidup dari ironi.
...beberapa hari dalam sebulan, menjelang datang bulan, gw merasakan melankolia yang mengganggu. gw merasa sudah membuang waktu dengan hidup, yang adalah ironi karena hidup itu sendiri adalah waktu. Karena masih hidup, makanya punya waktu. Dan sebaliknya.
Gw pikir ini karena, gw adalah mahluk yang lemah tapi keras kepala. Gw adalah mahluk paling random yang pernah gw tahu. Dan orang-orang di sekitar bilang gw adalah mahluk paling moody yang pernah mereka tahu. Dan beberapa dari mereka tahu banyak sekali orang.
Waktu kuliah dulu ada seorang teman yang selalu mau nemenin setiap kali gw mau melakukan sesuatu sendirian, misalnya pergi sendirian, atau ngapainlah. Pas gw tanya kenapa, katanya gw mengkhawatirkan. Atau terlihat seperti itu. Waktu itu gw heran karena gw merasa gw tidak seperti itu. Gw pun yakin gw tidak terlihat seperti itu. Gw adalah mahluk yang kuat. Mungkin cengeng kadang-kadang, tapi gw kuat. Sekarang, gw pikir-pikir, gw rasa, sebenarnya gw bukan kuat, tapi keras kepala.
Semakin ke sekarang, gw pun mengkhawatirkan diri gw sendiri, terutama saat hari-hari melankoli menghampiri. Gw khawatir suatu saat,... entahlah, karena gw random mungkin, atau moody, jadi kayak suatu saat bakal datang mood untuk... pergi.
Sebelum semalam gw engga khawatir, ini selalu terjadi kayak 2-3 hari dalam sebulan, setiap bulan, dan gw selalu ngelewatin dengan aman tanpa pikiran macam-macam. Tapi kemarin malam, sepertinya gw terperosok terlalu dalam karena gw berpikir untuk mengambil pisau dapur dan menggoreskan di lengan. Gw baru terlepas dari pertemanan yang gagal. Dia pernah sangat berarti buat gw tapi semakin lama gw merasa teracuni maka gw putuskan untuk pergi. Gw pikir gw lega, tapi sepertinya, ternyata, gw kecewa dan sedih. Sakit hati. Karena gw terus berusaha membuat rencana untuk membalas perasaan ini. Sepertinya kemudian gw muak dan memutuskan untuk menyerah, pada semuanya, bukan hanya dia. Bertepatan dengan saat gw mencapai titik rapuh. titik jelly. Dan semalam pun, pikiran itu pun terjadi.
Hidup ini seperti di penjara, ga ada tujuan, ga ada arti.
Dan kebebasan ini mengkhawatirkan.
Gw butuh bantuan atau distraksi.
Atau hiburan.dan motivasi.
No comments:
Post a Comment