belakangan ini gw mendengar beberapa cerita yang serupa, dengan perumpamaan seperti berikut:
X = "nih gw kasih tanah dan benih, lu jagain dan urusin, gedein, terserah lu gimana bentuknya, gw bayar juga. ini kontrak sepakat yah."
Y = "okeh."
X dan Y sama-sama tanda tangan. pas udah gede dan itu pohon berbuah ala Y dan terkenal,
Y = "gw mau ambil ini pohon semuanya. jangan tersinggung yah, ini cuman bisnis."
well, kalo cuman bisnis, itu kontrak sepakat dibawa ke pengadilan, Y bakalan kalah besar. tapi demi hubungan yang sudah terjalin dari sebelum menanam pohon dan perdamaian dunia, jadi X mengalah. tapi akibatnya X jadi setres karena berulang kali terjadi dan akhirnya jadi merasa dikhianati. gw yang ngedenger aja kesel. ... bukan kesel sih, tapi sedih. padahal itu pohon baik di X dan Y sama-sama ga di-apa-apain juga (sampai sekarang), dibiarin gituh aja, berbuah sendiri dan terus mengikuti siklus kehidupannya. tapi tentu saja status kepemilikan itu penting.
status kepemilikan.
buah karya.
kebebasan... mengatur hasil karya?
dan keuntungan yang datang seiring dengan popularitas, kalo ada.
gw pernah memutuskan untuk engga menjadikan hobi sebagai mata pencaharian, karena gw menyadari, gw engga suka dan engga tahan disuruh-suruh saat melakukan sesuatu yang gw suka. jadi ga suka lagi. merusak kesenangan. lalu di saat mata pencaharian itu melibatkan orang-orang yang gw kenal, teman, saudara, idola, fans, maka hubungan kami juga akan terancam. pasti terancam suatu saat, di saat uang sudah terlibat. tapi karena gw bukan orang hebat kayak para penanam pohon itu, jadi gw belum pernah berada dalam posisi mereka, menginginkan pohon yang gw besarkan tapi benihnya pemberian. gw ga tau bagaimana rasa sayangnya, atau rasa memilikinya, jadi... ya udah, sedih dulu ajah, sebelum bisa memutuskan. tapi jelas,... kecewa. walaupun cuman tahu ajah, engga terlibat sama sekali.
No comments:
Post a Comment