29.5.17

Amnesia vs Kepribadian

Ini mungkin terdengar random, tapi engga juga, soalnya pemicunya adalah komik berjudul Six Half buatan IKETANI Rikako.  Singkat cerita, ... siapa itu nama ceweknya.... (mikir keras)... Shiori! Nah, Shiori ini kecelakaan dan hilang ingatan (amnesia).  Ini sudah ketahuan dari halaman-halaman awal di chapter 1 komik.  Dan Shiori yang baru ini, yang amnesia, jadi sangat berbeda dengan Shiori sebelumnya.  Tapi kemudian, seiring perkembangan cerita, ada juga sifat-sikap-reaksi Shiori yang sama dengan sebelum hilang ingatan, tapi secara keseluruhan, buat orang di sekitarnya (dan Shiori sendiri), Shiori adalah orang yang berbeda dengan sebelumnya.

Yang kemudian membuat gw bertanya-tanya:
Saat gw hilang ingatan dan punya kepribadian baru, darimana munculnya kepribadian itu?
Awalnya gw punya teori begini (dari nonton anime Little Witch Academia eps. 3 tentang Akko yang masuk ke badan Suzy dan bertemu dengan banyak kepribadian Suzy), dengan gw sebagai contoh:
Jadi gw punya banyak kepribadian yang masing-masing berdiri sendiri.  Dan maksud gw tuh banyak banget, ga terhitung jumlahnya.  Gw punya kepribadian yang dominan, yang muncul sehari-hari/ setiap hari/ sering sekali, MISAL: kepribadian yang suka baca buku, suka nonton filem, nulis blog, makan melulu, tidur melulu, mandi melulu dan kegiatan-kegiatan lain yang sering gw lakukan.  Tapi gw juga punya kepribadian-kepribadian lain yang jarang melakukan sesuatu atau bahkan cuman kepribadian idaman (kepribadian yang gw pengen punya), MISAL: kepribadian yang suka dandan, suka olahraga ekstrim, suka perang, suka nari, pengen populer, pengen jadi youtuber, pengen jadi supermodel, dan lain-lain.  Nah, semua kepribadian ini ada di dalam gw.
Tapi kemudian gw lupa ingatan dan dengan demikian gw jadi lupa dengan kegiatan yang sering gw lakukan.  Gw yang ga punya ingatan dengan demikian terbebas dari rutinitas, gw taunya gw mau melakukan kegiatan tertentu pada saat itu juga.  Dengan ini, kepribadian gw yang tadinya jarang muncul atau bahkan cuman idaman, jadi punya kesempatan buat muncul dan bahkan menjadi dominan.  Maka, muncullah kepribadian gw yang baru.

Begitu teori gw.
Tadinya.

Tapi kemudian gw menggugel dan menemukan pernyataan dari seorang Karl Pribram yang katanya neuropsychologist terkenal.  Gw ga tau neuropsychologist apa (males gugel), tapi karena ada kata neuro yang berhubungan dengan saraf dan kata psychologist yang berhubungan dengan... psikologi? jadi sepertinya ucapannya bisa dipegang.  Jadi begini pernyataannya, gw edit dikit supaya singkat dan relevan:
Who you are is the sum total of all that you've experienced.  The ability to know your preferences, what you like/ dislike (gained) through accumulated memory is what defines you as a person.
Gw pikir pernyataan di atas masuk akal dan kalo (maksa) disambung-sambungin ama teori gw:  karena ingatan gw yang membuat gw sering memilih melakukan kegiatan tertentu hilang, gw jadi ga punya alasan untuk melakukan kegiatan tersebut dan akhirnya mungkin melakukan kegiatan baru yang gw ingin lakukan pada saat itu juga.  Dan perlahan kegiatan baru ini akan membentuk kepribadian gw yang baru.  Lalu, karena gw ga punya ingatan tentang orang-orang juga, jadi gw menganggap semuanya adalah orang asing dan karena itu perasaan/ sikap gw mungkin akan netral sama mereka, sampe gw punya pengalaman baru dengan mereka yang akan memberikan gw perspektif baru tentang mereka yang kemudian, yah, kembali membentuk kepribadian gw yang baru.

Gw masih bilang mungkin, karena, gw/ kita/ manusia itu 'kan dibentuk dari pengalaman/ ingatan selama tumbuh besar, dan mungkin ada pengalaman/ ingatan tertentu yang meninggalkan perasaan begituh.... menusuk, sangat menusuk, yang ga bisa disembuhkan oleh waktu.  Sehingga waktu hilang ingatan pun, di mana seharusnya perasaan yang timbul karena ingatan itu juga menghilang, tapi karena terlalu kuat/ trauma?, perasaan yang menusuk itu tetap ada bekasnya.  Jadi walau gw menganggap seseorang adalah orang asing karena gw ga ingat apapun tentang dia, padahal sebelumnya dia adalah seseorang yang sangat gw cintai, atau sebaliknya sangat gw benci, maka akan ada sesuatu yang membuat gw merasa nyaman/ ngga nyaman sama dia.  Sesuatu yang gw ga ngerti karena ingatan gw tentang dia hilang, tapi perasaannya masih ada.

Sama satu lagi, walaupun manusia dibentuk oleh pengalaman selama tumbuh besar, tapi gw rasa dari lahir pun setiap manusia itu udah punya sifat bawaan, kayak misalnya ada bayi yang nangis melulu atau sebaliknya kalem.  Jadi waktu hilang ingatan pun, teori gw, sifat bawaan ini tetap ada dan menjadi pembimbing aksi/ reaksi gw yang hilang ingatan untuk membentuk kepribadian baru.

Gw sempet mau mempelajari cara kerja otak/ ingatan gara-gara topik ini, tapi apa alas, bawaannya gw emang malas :-/ 

Gw juga sempet pengen amnesia ajah supaya punya kepribadian baru, tapi gw jadi khawatir dan cukup yakin kalo gw bakal menjadi lebih parah dari gw yang sekarang hahahah

jasa sampul buku

Haa... dari tadi/ kemaren ngomongin filem/ serial TV, jadi sekarang gw mau ngomongin yang lain dulu sebelum kembali ngomongin filem/ serial TV berikutnya.

Akhir Maret lalu gw ke Sapporo, Jepang dan mampir ke toko buku Kinokuniya di belakang Century Royal Hotel di seberang sebelah (kanan) stasiun Sapporo.

Gw beli enam buku.  Dua di antaranya engga diplastikin kayak buku di kanan.
Pas lagi bayar, kasirnya nanya sesuatu yang tidak gw mengerti karena dalam bahasa Jepang, terus dia ngeluarin selembar kertas gede dan nutupin buku gw yang gak diplastikin.  Gw kira tadi dia nanya mau dibungkus atau engga.  Karena gw takut sampul/ halaman bukunya kelipet-lipet pas taroh di koper tar, dengan semangat gw jawab mau (atau gw ngangguk-ngangguk yah?).  Dan mulailah kasir cowok yang imut dan baik hati itu membungkus buku gw.  Sejujurnya gw ga inget mukanya sih, tapi perbuatan baik membuat wajah terlihat lebih menarik.  Mungkin.

Tapi ternyata, buku gw bukan dibungkus, melainkan disampulin kayak begini.

Dia juga nawarin buat nyampulin buku gw yang diplastikin, tapi gw pikir ga perlu karena gw ga takut kelipet jadi gw nolak.

Gw inget waktu naek kereta, kadang ada orang-orang yang baca buku dan bukunya disampulin.  Bukan sampul plastik biasa, tapi sampul bagus yang bahannya kain atau bahkan kulit dengan gambar bunga atau ornamen khas Jepang lainnya dan bisa dipake berulang-ulang gituh .  Gw pikir mereka ga mau judul/ sampul bukunya ketahuan (ehem...).  Mungkin jasa sampul buku ginih (gratis btw) diberikan dengan pemikiran yang sama.  Waktu gw ke Kinokuniya Shinjuku di Tokyo (dan semua Kinokuniya di Singapore, Jakarta, dan Sydney, Australia), jasa ini ga ditawarin, jadi gw ga tau apakah ini cuman di Kinokuniya Sapporo atau mungkin di Kinokuniya lain (di Jepang) ada tapi harus minta.

Btw, gw perhatikan mayoritas buku-buku Jepang itu ukurannya sama semua kayak kebanyakan B6 atau A5, bahkan ketebelannya pun mirip, jadi bisa pake satu sampul kain/ kulit yang bagus untuk berbagai macam buku (ganti-gantian).  Kalo di sini kayaknya sulit.  Kayak harus punya beberapa sampul berbagai ukuran/ ketebalan gituh hmm..

American Gods

adalah serial TV Amrik (2017) yang dibuat berdasarkan novel berjudul sama buatan Neil Gaiman (2001).  Gw udah nonton sampe episode 4 dan masih belon mengerti ceritanya tentang apah, kecuali bahwa banyak dewa-dewi tinggal di Amerika dan menyamar sebagai manusia dalam berbagai jenis tipe rupa dan kebangsaan.  Tapi kemudian barusan gw baca Wikipedianya, supaya gw punya lebih banyak bahan tulisan, dan gw jadi sedikit lebih mengerti, atau setidaknya tahu tujuan ceritanya.  Yang gw baca Wikipedia versi novelnya (supaya ga kebanyakan spoiler), tapi harusnya ga beda jauh ama TV (terutama) karena novelnya udah selesai ditulis (engga kayak Game of Thrones).

Awalnya gw ga tertarik sama American Gods soalnya gw gak suka novel-novel Neil Gaiman. Tapi kemudian semua orang memuji dan akhirnya, seperti kasus Game of Thrones, gw pun memberi kesempatan... dan gw suka banget sinematografinya, jadilah gw masih menonton sampe sekarang walaupun belum mengerti jalan ceritanya (sampe barusan baca Wiki).

Kalau udah pernah nonton Game of Thrones yang ada adegan-adegan telanjang dan berantem/ penyiksaan yang sadis dan brutal, nah American Gods jauh lebih parah dan vulgar.  Parahnya karena adegan-adegan itu bukannya disensor tapi malah dipertegas.  Ada sedikit yang diperhalus, tapi pada umumnya diperlihatkan tanpa malu-malu.  Gw sempet kaget pas liat ga disensor karena ini 'kan tayang di TV.  Yah, TV nya Premium kabel alias berbayar, tapi tetep ajah kan.  Sepertinya TV (berbayar?) lebih leluasa dalam menayangkan adegan daripada filem?

Eniwei, walaupun menurut gw ini adalah serial TV yang menarik dari segala segi (teknis perfileman, penceritaan, karakterisasi dsj), gw pikir yang boleh menonton ini adalah mereka yang sudah berusia 25 tahun ke atas.  Kalo lebih muda dari itu, sepertinya mereka tidak kuat... iman? atau hati... atau... prinsip... jantung? Pokoknya, ini serial TV yang vulgar, brutal (gore?), ada LGBT-nya dan lagi ngomonginnya dewa (kepercayaan?), judulnya ajah American Gods.  Dan semua itu sudah dikasih liat dari episode 1. Jadi coba nonton eps 1 dulu ajah kalo tertarik.  Kalo bisa bertahan/ suka, dijamin eps-eps berikutnya aman (... apanya?).

Satu-satunya jenis kelamin dalam kepungan lawan jenis.

atau kalau kata orang Indonesa: perawan di sarang penyamun.

Gw baru menyadari satu persamaan antara filem King Arthur: Legend of the Sword dan Pirates of Caribbean: Salazar's Revenge (atau Dead Men Tell no Tales): sama-sama cuman punya satu karakter cewek di antara deretan karakter cowok.

Bedanya, karakter cewek di Pirates 5 punya peran dominan di cerita termasuk bagian plot cinta-cintaan yang menurut gw ga penting dan malas mikir dan gada chemistrynya sama sekali dan twist bahwa dia adalah anak dari jeng jeng....

Sementara di King Arthur, Morgana punya peran penting ngebantuin Arthur, tapi ga dominan alias jarang muncul.  Menjadi dominan kalo kemudian dia terlibat plot cinta-cintaan sama Arthur, tapi untungnya engga.  Walaupun gw pengen melihat dia muncul lebih banyak lagi, tapi gw puas dengan bagian cerita dia, setiap kali muncul selalu keren dan badass.

Di Amerika, pada ngelaporin kalo King Arthur itu flop, alias ga laku di bioskop, katanya salah satu alasannya karena ga ada karakter cewek yang dominan.  Dan gw kayak yang... ya elah, hari gini? Gw rasa yang bikin alasan itu adalah cowok mesum, soalnya sebagai cewek, sapa yang mau liat cewek di filem yang banyak cowok kerennya? Apalagi kalo cewek itu cuman buat jadi love-interest dan ga penting ke jalan cerita kayak di Pirates 5.

Di Pirates 5, peran Carina adalah sebagai pemilik peta harta karun sekaligus guide menuju lokasi dan twist bahwa dia adalah anak jeng jeng... TAPI entah sejak kapan dia jadi taksir2an sama Henry dan bikin karakter dia ga konsisten.  Pada umumnya dia engga keliatan naksir Henry, bahkan tatapan matanya pun dingin.  Gada chemistry ama Henry bahkan sampe akhir.  Engga kayak Orlando sama Keira.  Kalo gini gw jadi mikir mendingan Carina itu dibikin cowok ajah.  Sementara Morgana itu emang ada di cerita legendanya King Arthur, jadi ga bisa diubah sembarangan.

Yeah, pokoknya gw sebel deh kalo ada lawan jenis yang nyempil cuman buat love-interest doank.  Kecuali percintaan mereka penting buat perkembangan cerita, atau malah yang mengendalikan perkembangan ceritanya.  Kalo cuman buat... kayak fan-service gituh, idih...

Sebentar lagi Wonder Woman muncul dan Chris Pine bakal jadi satu-satunya cowok di antara kepungan cewek Amazon.  Apa lagi nge-trend yah pola filem tipe harem gini?

Btw, kalo belon nonton King Arthur: Legend of the Sword, nonton! Nih filem menyenangkan banget dan seru!

10.5.17

tadi gw nonton King Arthur: Legend of the Sword.

Gw ga tau kenapa gw mau nonton filem ini padahal gw... kayak engga tertarik untuk tahu apapun tentang filem ini sebelumnya, cuman merasa mau nonton ajah.  Dan gw bersyukur gw nonton. Mungkin karena gw sudah siap kecewa, karena nonton filem ini kayak gambling secara gw ga tau apapun selain sinopsis dari website bioskop: Arthur anak jalanan yang jadi Raja.

Gw kan ga tau yah cerita si King Arthur ini selain dia narik Excalibur terus jadi Raja.  Dan gw juga ga tau seberapa akurat ini filem ngikutin legendanya, tapi gw asumsikan akurat ajah.  Jadi ternyata, Arthur itu bukan anak jalanan seperti yang gw kira, yang bokap nyokapnya orang biasa, padahal gw udah (waktu baca sinopsis di website bioskop): Wow, keren juga nih Inggris pernah punya Raja yang anak jalanan.  Tapi engga, Arthur itu adalah anak Raja yang melarikan diri dari musuh bapaknya terus dibesarkan di jalanan.  Dan Excalibur itu, syarat nariknya adalah: cuman keturunan langsung Raja yang bisa. Right.  I should have known.  Kalo gw tau syaratnya Excalibur begituh, gw bakal bisa nebak kalo Arthur bukan anak jalanan sebenarnya.

Eniwei, that complaint aside, filem ini asik banget! Seru! Menyenangkan! Membuat gw tertarik banget buat nonton filem-filem arahan Guy Ritchie (dan Ernest Prakasa, berdasarkan postingan sebelumnya) berikutnya.  Bagian favorit gw pas potongan adegan progresif (maksudnya alur waktunya maju, bukan flashback atau random) yang matching banget sama backsoundnya (lagu rock?) sama adegan percakapan bolak balik putus sambung yang kocak (dan smart! my kind of conversation!).  ...Sama bagian sihirnya Morgana (kurang banyak! tapi keren jadi gpp) dan Arthurnya juga lucuuu.  Pengen nonton lagi!  Tadi gw nonton versi 3D, jadi kalo nonton lagi, gw mau versi 2D ajah, tadi rada bingung ngeliat adegannya, ga nampol sih 3D nya.  Kayak nonton panorama dalam Aquarium.

Eniwei lagi, tadi yang nonton filem ini versi 3Dnya kayak cuman ber... 7? 8? tapi yang ketawa cuman gw doank, jadi sepertinya filem ini/ Guy Ritchie bukan untuk semua orang.  Mungkin mereka ga nangkep leluconnya. Atau mungkin mereka malu-malu yah ketawanya? Atau gw ketawa kekencangan jadi ketawa yang laen ga kedengaran? 

Oh well...

Harusnya gw nonton filem ini kemaren abis nonton Stip dan Pensil biar mood gw ga jelek.

9.5.17

.... tadi nonton Stip dan Pensil

=/

Jadi, dulu, gw nonton Cek Toko Sebelah dan ketawa terus hampir setiap saat.  Jadi begitu tau Stip dan Pensil mau tayang 2-3 bulan kemudian, gw nungguin dengan harapan, bakal ketawa kayak nonton Cek Toko Sebelah.  Soalnya pas ngeliat trailernya Stip dan Pensil, gw udah ketawa, jadi gw pikir: this should be good.

... Ga gw sangka, bagian yang bikin gw ketawa udah di trailer semua... Jadi gw nonton Stip dan Pensil berasa nonton drama.  Terutama pas tau-tau muncul side plot ga penting kayak sutradaranya, atau siapapun deh yang nentuin jalan cerita tuh filem, punya kepribadian ganda.  Atau galau mau bikin cerita yang mana.

Fak.

Dan kenapa judulnya Stip dan Pensil? Apakah karena ada sekolah darurat-nya?

Eniwei, dari filem ini gw baru mengerti:
Walaupun Cek Toko Sebelah sama Stip dan Pensil sama-sama ada Ernest Prakasa (yang jadi pemaen), tapi yang bikin lucu, ternyata(?) sutradaranya, bukan pemaennya.

Dan kenapa itu para pemeran pendukung, orang-orang kampungnya malah berkarakter? Masing-masing punya yang namanya kepribadian, dari cara ngomong, sikap dan laen-laen.  Tapi yang pake seragam sekolah malah kayak wallflower, keberadaannya kalah sama para pemeran pendukung.

Ah sudahlah, gw jadi kesel kalo inget-inget lagi... ugh.

5.5.17

kemaren juga gw selesai nonton Thirteen Reasons Why,

yang, mungkin, bisa dibilang sealiran sama Koe no Katachi (聲の形), which is korban bullying yang kemudian (mencoba untuk) bunuh diri.  Bedanya, di Thirteen Reasons Why, dari menit pertama, Hannah udah mati meninggal, dan karena itu Thirteen Reasons Why bercerita tentang 13 alasan kenapa Hannah bunuh diri.

Yang perlu diketahui adalah: Hannah tidak jelek, bukan penyandang cacat, tidak lemah, tidak patuh, tidak miskin, orangtuanya harmonis, dia juga baik-baik ajah sama orangtuanya, ga susah temanan, ada cowok yang naksir dan dia taksir, malahan (entah kenapa) beberapa cowok dan cewek populer di SMA ngedeketin dia terus, ngajakin ngumpul bareng.  Jadi bukan jenis korban bullying penakut/ lemah yang patuh melakukan apa ajah dan pasrah digebukin.  But again, seperti yang sudah gw bilang di tulisan gw sebelumnya, perasaan itu semua sama, apapun alasannya.  Pada akhirnya Hannah bunuh diri juga.

Lalu, karena gw merasa baik hati, gw akan breakdown secara singkat 13 alasan tersebut.  Ada 13 episode dan tiap episode bercerita satu alasan utama, yang menyebabkan alasan berikutnya terjadi dan seterusnya, btw, bakal ada banyak nama...:

01. Cowok yang lagi PDKT-an sama Hannah, namanya Justin, ngambil foto Hannah yang keliatan kolor celana dalamnya, terus mamerin ke temen-temennya.  Salah satu temen, namanya Bryce, nyebarin itu foto ke seluruh... sekolah? kelas? Dan sejak itu, Hannah jadi punya reputasi... cewek murahan.

02. Jessica, yang Hannah pikir adalah sahabatnya, ninggalin Hannah, nyuekin, pokoknya putus komunikasi gituh, tanpa ngasitau Hannah alasannya.  Ternyata Jessica pacaran sama Alex, teman nongkrong mereka berdua dan karena itu Jessica seringnya berduaan sama Alex ajah.

03. Alex, yang kesel karena Jessica ga mau hubungan sex sama dia, bikin daftar yang salah satu isinya: Best Ass: Hannah | Worst Ass: Jessica, buat bikin Jessica kesel.  Terus Jessica jadi ngamuk sama Hannah karena mikir Hannah ngegodain Alex.  Dan gara-gara daftar ini beredar, Hannah sadar pantatnya jadi sering diliatin orang-orang, terutama cowok.  Puncaknya pas Bryce ngeremes pantat Hannah jadi suram.

04. Tyler adalah fotografer majalah sekolah dan sering menguntit Hannah (alias stalking) dan ngambil foto-foto Hannah terus, bikin risih.

05. Courtney adalah cewek pintar populer yang ngebantuin Hannah buat ngejebak Tyler, tapi malah Tyler dapet foto Courtney lagi ngecium Hannah (tapi muka Courtney ketutup jadi keliatan rambutnya doank).  Terus Courtney nyebarin gosip kalo Hannah adalah lesbian.

06. Marcus adalah salah satu anggota geng populer di skul dan bikin taruhan kalo dia bakal berhasil ngedeketin Hannah.

07. Zach juga salah satu anggota geng populer dan temen Marcus.  Dia berusaha ngedeketin Hannah dengan tulus, bukan karena taruhan dsj, tapi Hannah udah muak jadi dia ga mau dideketin.  Zach marah dan nyuri surat Hannah terus.

08. Ryan? Gw lupa namanya, tapi kayaknya sih Ryan.  Ryan ini sepertinya editor majalah sekolah.  Dia nyuri puisi Hannah (yang jujur dan intimate) dan masang di majalah sekolah, padahal Hannah percaya sama Ryan makanya dia kasiliat puisinya.

09. Justin lagi, ini Justin yang sama di nomer 1.  Kali ini, Justin udah pacaran sama Jessica.  Terus dia ngebiarin Bryce merkosa Jessica. ... Bukan ngebiarin juga sih, tapi Justin engga gigih waktu berusaha mencegah Bryce.

10. Sheri nganterin Hannah pulang dari pesta dan nabrak rambu lalu lintas sampe patah, jadi rambunya jatuh gituh ga keliatan.  Terus terjadi kecelakaan yang ngebunuh temen skul mereka di tempat Sheri nabrak rambu tersebut.  Hannah merasa kalo kecelakaan itu gara-gara rambunya patah dan dia/ Sheri terlambat ngasitau polisi (kalo rambunya patah).  Dan sialnya, temen skul ini adalah temen yang sering ngebantuin Clay ngedeketin Hannah.  Clay adalah cowok yang Hannah taksir.

11. Clay dan Hannah saling naksir dan mereka ga mau(?) mengakui ketertarikan di antara mereka... Tapi akhirnya suatu malam mereka ciuman juga dan pegang-pegangan dan lain-lain.  Tapi baru juga mulai mau hubungan sex, Hannah inget semua pelecehan dan bullying oleh cowok-cowok lain yang dia terima dan akhirnya dia jadi ketakutan terus ngusir Clay.  Clay masuk daftar bukan karena Clay jahat, tapi karena dia (Hannah) nolak Clay.  Penolakan ini yang jadi alasan Hannah. (Iyah, dia sendiri yang nolak, jadi dia menyesali kebegoannya gituh)

12. Bryce merkosa Hannah.

13. Abis diperkosa itu, Hannah sudah memutuskan untuk bunuh diri, tapi dia masih menyimpan harapan dan akhirnya nyamperin guru BP buat curhat.  Gw ga gituh ngerti adegan ini, tapi intinya interaksi dengan guru BP ini mengecewakan Hannah... dan akhirnya dia tetep bunuh diri.

Kalau di Koe no Katachi (聲の形) dua tokoh utamanya mau bunuh diri karena udah ngerasa nyusahin orang-orang, di 13 Reasons Why, kayaknya justru kebalikannya, Hannah udah muak dilecehkan/ disusahin orang-orang dan akhirnya bunuh diri beneran.  Tapi gw pikir beberapa alasannya ga efektif atau overdramatisasi, ngga cukup kuat buat alasan Hannah bunuh diri, soalnya Hannah engga keliatan kayak cewek cengeng tapi entah kenapa kebanyakan reaksinya tuh lemah, pasif,... cengeng.  ... Jadi kayak hipokrit. Kayak pengarangnya mikir, 13 angka sial, jadi gw harus nyari-nyari alasan buat menuhin kuota, semacam ituh.  Tapi namanya bikin cerita drama, harus begitu kali yah.

Yang menarik dan baru gw sadari sekarang, jadi beberapa manusia yang nge-bully Hannah itu masing-masing punya masalah yang lebih sedih dari Hannah, kebanyakan punya hubungan yang ngga harmonis sama orang tuanya.  Bagian yang menariknya adalah, gw sebagai penonton, ga peduli sama itu semua dan tetap menganggap mereka si pembully, adalah pihak yang gak baek.  Gw sendiri juga ga suka sama Hannah yang kayak out of character... kalo dipikir-pikir, ga ada yang .. oh, ada, Justin berhasil mengambil simpati gw di episode2 akhir waktu dia hampir dibunuh pacar nyokapnya... dan nyokapnya tetep milih pacarnya daripada Justin.

Gw baru inget alasan gw nonton 13 Reasons Why itu karena mau ngeliatin Dylan Minette yang jadi Clay, cowok yang ditaksir Hannah sekaligus yang nyeritain itu di atas semua.

Eniwei, ada satu perbandingan lagi yang mau gw bahas antara Koe no Katachi (聲の形) dan 13 Reasons Why, yaitu cara bunuh dirinya: di Koe no Katachi (聲の形), bunuh dirinya lompat dari gedung atau jembatan (kind of bold choice huh?), di 13 Reasons Why Hannah silet pergelangan tangan dan mati di bak mati.

Gw pikir ini mungkin masalah budaya , tapi mungkin ajah, di Koe no Katachi (聲の形) bunuh diri lompat dari tempat tinggi itu karena mereka berdua butuh diselamatkan.  Soalnya pada akhirnya dua-duanya ga jadi mati.  Jadi mungkin cara yang dipakai itu adalah kebutuhan cerita. ... Tapi mungkin juga karena kalo loncat itu ga sakit dan pas ngebentur lantai/ kepala pecah dll, sakitnya cuman sebentar(?) terus langsung mati.  Logikanya sih kalo emang niat bunuh diri, pasti make cara yang ga ketolong, yang diem-diem kayak Hannah gituh.  But then, mau pake cara apapun, kalo emang belon waktunya mati, ga bakal mati jugalah.  Santai ajah mau pake cara apa juga, yang penting nyaman.

kemaren nonton Koe no Katachi (聲の形)

atau diterjemahkan menjadi A Silent Voice. (Suara yang Senyap?)
Tapi Katachi ( ) sendiri artinya adalah bentuk.  Jadi mungkin harusnya, Bentuk Suara, atau kira-kira (A) Shape of Voice.
 
Dulu, gw pernah baca komik one shot-nya.  Terus ternyata komiknya dibikin seri, tapi gw baru tahu bulan kemaren.  Sampe sekarang juga masih belon baca.  One shotnya berakhir di bagian kedua tokoh utamanya ketemu lagi pas udah gede, jadi gw nonton filem ini dengan harapan mengetahui kelanjutan hubungan mereka.

Awalnya gw kira A Silent Voice itu, kata Silent-nya, merunjuk pada tokoh cewek yang tuli tunarungu, as in, cerita ini adalah soal dia. Tapi setelah nonton filemnya, gw menyadari, cerita 聲の形 ini bukan soal cewek itu, tapi sebenarnya soal si cowok yang tobat.  Jadi sekarang gw merasa A Shape of Voice terjemahan yang lebih cocok.

Ngeliat visualnya yang ala komik romantis buat cewek, ceritanya emang ada romantis2nya, tapi lebih dari itu, cerita ini bukan tentang romansa, tapi tentang... eksistensi hidup.  Dalem banget yah?  Well, macem-macem sih, ada tentang persahabatan juga, keluarga, masa lalu yang menghantui... tapi gw pikir inti ceritanya itu tentang eksistensi hidup.  Buat apa gw dilahirin? Gw cuman bikin susah orang-orang di sekitar gw.  Setiap ada gw elu selalu kena sial/ masalah.  Kalau gw mati, semuanya akan baik.  Semua orang akan bahagia karena ga ada gw yang nyusahin mereka lagi. Kira-kira hal seperti itu.  Mereka ini, adalah dua tokoh utamanya, si cewek tuli tunarungu dan cowok tobat.  Dua-duanya berusaha bunuh diri dengan alasan yang sama, sama-sama ngerasa udah nyusahin orang-orang di sekitar mereka.  Well, si cowok juga pernah jadi korban bullying, tapi gw yakin bukan itu alasan dia mau bunuh diri.  Gw rasa bagian dia jadi korban bullying itu supaya ada alasan kenapa dia bertobat dan jadi mr. nice guy.  Jadi, ga ada urusan sama panca indra, status sosial, tingkat ekonomi, bentuk badan, ras, suku, agama, jenis kelamin la la la, perasaan itu semua sama.

Gw juga pernah berpikir seperti mereka, cuman gw ga nemu cara bunuh diri yang tidak menyakitkan, jadi sampe sekarang gw masih hidup, dan akhirnya lupa juga mau bunuh diri.  Gw pikir, gw ada ataupun engga, hidup setiap orang akan tetap susah, jadi ya sudahlah.  Kalau gw hidup, minimal, mungkin, gw bisa bantuin (supaya ga gituh susah), tapi kalau tetap susah juga, ya sudahlah, nasib. ...
Udah pasrah gw ama kehidupan.
Eniwei, mungkin karena gw belom baca komiknya, gw jadi merasa ada character building yang hilang.  Kayak alasan kenapa karakter itu jadi punya kebiasaan begituh atau alasan kenapa dia takut begituh atau melakukan itu atau masih terpaku masa lalu atau... yang gituh-gituh deh.  Plotnya sendiri okeh, cuman karena gw ga tau kenapa karakter itu berbuat begitu, jadi kayak.. ada yang hilang ajah.  Tapi ga tau juga apa di komiknya dikasitau juga alasan atau cerita character buildingnya.  Hmm..

Eniwei lagi, bullying dan adegan kasar-nya benar-benar... kasar.  Gw sempet berhenti tengah jalan waktu dulu baca komiknya satu chapter doank karena kasian ama si cewek tuli tunarungu.  Emang harus gituh yah kalo bikin cerita, ga boleh segan-segan.  Besides, what doesn't kill you makes you stronger. .. Walaupun kemudian korbannya jadi pada pengen bunuh diri... but hey, they're still alive, right?