26.6.17

ngomongin komik yaoi.

Dalam budaya animanga Jepang, ada istilah fujoshi, artinya, cewek yang suka dengan hubungan antar sesama cowok (atau istilah lainnya: boy's love/ yaoi).  Dan gw kenal seorang fujoshi.  Waktu gw baru tahu kalo dia ternyata adalah apa yang disebut fujoshi, gw sempat nanya apa daya tarik yaoi? Katanya: "Soalnya di yaoi cowoknya cakep-cakep!" Dan gw pikir, ya iya sih gw juga suka cowok cakep, tapi kalo ngeliat itu cowok cakep jadian sama cowok cakep lainnya, kok gw malah... ngiri sedih daripada kyaaa kyaaa seneng ngeliat dua cowok cakep pegang-pegangan... Jadi dari jawaban itu, gw masih ga ngerti daya tarik yaoi.

Gw inget komik yaoi pertama yang gw baca, gw lupa judulnya apa Gravitation atau Graduation. Gw baca karena ada majalah anime komik yang rekomendasiin itu komik, jadi gw pikir itu adalah komik yang bagus.  Tapi gw menyerah di chapter dua karena itu komik isinya cowok semua... dan buat gw itu membosankan.  Bertahun-tahun kemudian gw baru tahu kalo itu ternyata adalah yaoi.  Sejak itu gw ga pernah baca komik yaoi lagi karena gw ga tertarik dengan hubungan sesama jenis.

Satu-satunya komik yang gw tungguin terbitnya tiap pekan adalah World Trigger, tapi komik ini sudah berbulan-bulan hiatus.  Jadi sementara nungguin, gw baca komik-komik lain yang gw dapatkan secara acak: masukin kata kunci asal-asalan, terus dari hasil pencarian yang semuanya mengandung kata kunci tersebut (entah judul atau nama pengarang), gw cari yang covernya menarik.  Dan dari sini gw jadi berkenalan dengan berbagai macam komik yang ga pernah gw sadari beredar di dunia ini (kayak: ada juga yah komik kayak gini...).  Dengan cara ini juga gw menemukan begitu banyak komik yaoi yang sering gw baca belakangan.

Semua komik yaoi yang gw baca minimal ada adegan ciuman.  Hampir semua ada hubungan seks.  Gw belum menemukan komik yaoi yang ga ada salah satu dari dua hal tersebut.  Dan emang bener, cowok-cowok di komik ini antara manis atau keren tapi selalu cakep.  Tapi yang paling tidak gw sangka, juga yang menyebabkan gw jadi sering baca walaupun gw ga tertarik hubungan sesama cowok selamanya, adalah, 
komik yaoi itu lebih romantis daripada komik romantis hubungan lawan jenis.
yang membuat gw berpikir mungkin ini penyebab banyak (banget?) cewek yang suka baca komik ini.

Plot umumnya adalah, cowok A terjebak dalam romansa dengan cowok B yang agresif/ inisiatif, lalu cowok A galau sok-sok nolak cowok B tapi karena cowok B agresif jadi mereka sering ciuman atau berhubungan sex, akhirnya cowok A mengakui juga kalo dia suka cowok B.

Plot ini begitu umum, kayak, super umum, sampe kayak udah hukumnya plot komik yaoi yah gituh, sampe-sampe gw berpikir kalo ga ada ciuman atau hubungan sex-nya, si pasangan cowok ini ga bakalan jadian, soalnya kayak cuman kegiatan itu yang menghubungkan mereka secara emosional... dan fisikal.  Jadi hubungan emosional yang dimulai dari hubungan fisik.  Selalu.  Selalu.  Hubungan fisik mempunyai peranan yang suangat besar, sangat signifikan dalam komik yaoi, salah satunya untuk mengubah preferensi seksual cowok A.

Beberapa inisiatif cowok B bisa dimasukin ke kategori pemerkosaan/ pemaksaan tanpa persetujuan, tapi karena korbannya kemudian jadi... kebawa suasana..? jadi menikmati bahkan klimaks,... terus gw jadi ga ngerti lagi deh..  Sementara suasananya terasa manis dan romantis, tapi gw tetep ga suka acara maksa-maksa gini.  Terus kemudian korbannya jadi demen... dan mereka jadian di akhir cerita.

Sigh.

Eniwei.  Gw belon pernah menemukan serial yaoi yang lebih dari tiga buku.  Kebanyakan satu buku atau satu chapter atau antalogi.  Bisa dimengerti mungkin, emangnya cerita romantis cowok dengan cowok mau dibawa sejauh apa? Terlalu banyak masalah yang bertentangan dengan norma sosial untuk diintegrasikan ke dunia nyata, nanti jadinya malah drama gila-gilaan dan kehilangan aspek fantasy romantisnya itu (maksudnya terlalu romantis sampe seperti dalam fantasi/mimpi).  Jadi kalo keduanya sudah mengakui perasaan satu sama lain, sudah sepakat, sudah cukup ceritanya sampe situ ajah.  Sisanya biar pembaca yang melanjutkan dan menentukan dalam khayalan masing-masing.

20.6.17

Smoke + Mirrors

Sambil nungguin album terbarunya Imagine Dragons yang akan rilis (Evolve), gw rajin dengerin album mereka sebelumnya: Smoke + Mirrors.  Baru-baru ini ajah gw suka dengerin mereka, biasanya kayak cuman satu dua lagu yang terkenal lewat gituh ajah, tapi kali ini gw mendengarkan seluruh lagu di album mereka berulang-ulang.

Terus hari ini, sembari nungguin transfer data di komputer, gw putuskan buat sing-along alias ikutan nyanyi sambil dengerin lagu-lagu mereka, atau istilah yang familiar: karaoke-an.  Dan mulailah gw buka berderet tab yang isinya lirik lagu mereka dari album Smoke + Mirrors, terus mendengarkan dengan penuh perhatian untuk ikutan nyanyi.

... Ternyata lagu mereka ... susah buat dinyanyiin secara keseluruhan :-/ Gara-gara vokalnya suara pria, jadi pas banyak nada rendah gw keabisan napas ha ha ha.

Terus gw baru sadar kalo lirik lagu mereka kebanyakan pendek-pendek, rada depresi/ inferiority complex gituh dan intro lagunya rada panjang (kebalikan dari lagu-lagu barunya Lorde di album Melodrama, yang juga sering gw dengerin belakangan, sama Humanz, album baru Gorillaz).  Dan yang tidak gw sangka, ternyata nadanya banyak banget, dalam satu lagu bisa naik turun 3-4x .... tiap bagian (verse, bridge, chorus)/ blok lirik bisa punya nada yang beda. Pantesan gw ga bosen-bosen dengerinnya, kayak dengerin banyak banget karena nadanya bervariasi.

Ga sabar nungguin Evolve, tiga hari lagi!

13.6.17

visual library tunanetra

Berapa hari terakhir, gw sedang membuat cerita tentang orang buta yang membayangkan sesuatu berdasarkan input panca indera lain: telinga, hidung, kulit...

Terus gw mikir, kenapa orang ini buta? ada apa dengan matanya? apa dia buta dari lahir?

Terus berlanjut lagi pikiran gw, kalo orang ini buta dari lahir, seumur hidup belum pernah melihat apapun, bukannya itu berarti... dia ga punya visual library?  Yang berarti dia, walaupun tahu nama/ sebutan untuk suatu benda, tapi dia sendiri ga tau dengan pasti seperti apa bentuk bendanya.

Dia tahu yang cair dan basah itu air, tapi dia sendiri tidak pernah melihat air seperti apa.  Asalkan dirasa basah dan cair (dan tidak lengket atau licin) berarti air, berarti dia tidak bisa membedakan air jernih dan air kotor (kotor tanpa partikel apapun, misalnya air hasil endapan tanah).

Dia bisa merasakan bentuk bulat.  Atau segitiga, atau berbagai macam bentuk lainnya, yang kemudian dia terjemahkan sendiri ke otaknya menjadi suatu bentuk.. yang mungkin ajah bukan bulat atau segitiga yang kita tahu.  Bulat atau segitiga yang dipahami oleh orang yang tidak pernah melihat bentuk bulat atau segitiga sebelumnya, sangat mungkin berbeda dari yang kita tahu.

Yang kemudian membuat gw berpikir (lagi), bukan hanya bentuk bulat atau segitiga, tapi mungkin ajah semua benda, semua hal! berbeda.  Jadi mereka menciptakan gambaran (image) mereka sendiri, tapi karena mereka ga punya visual library, sangat mungkin bentuk(image)-nya bukan berupa gambar.  Gw ga kebayang sih bentuk pustaka-nya seperti apa karena gw tidak imajinatif.  

Kalo orang yang buta kemudian (sebelumnya tidak buta), berdasarkan yang gw tonton dari Notes on Blindness ((2016) - filem dokumenter tentang Profesor yang perlahan(?) menjadi buta karena operasi matanya bermasalah), dia bakal mengandalkan ingatannya saat mempelajari bentuk benda baru.  Dia harus menciptakan bayangannya sendiri karena dia ga punya data visual benda itu sebelumnya (dia ga pernah liat), tapi dia akan memakai data visual yang sudah dia miliki untuk ngebantu dia ngebentuk bayangan benda baru ituh.  Misal: kalo orang ga pernah liat kipas lipat sebelumnya terus jadi buta dan megang-megang kipas lipat, dia akan mengingat kertas atau kain (tergantung bahan kipasnya), yang diberi kayu-kayu tipis, lalu dilipit seperti hordeng atau rok anak SD.  Tapi kalo ga punya data visual sama sekali, gimana referensiinnya?

Hmm... pengen nanya langsung ke yang pengalaman...

Berarti orang buta di cerita gw ga bisa buta dari lahir yah.  Dia harus udah punya visual library jadi gw bisa mempertanggung-jawabkan cerita gw nanti.

... Okeh!