Gw mau posting sesuatu hari ini, tentang perasaan gw belakangan ini. Tapi sudah dua setengah jam berlalu dan gw terus ngetik, ngapus dan ganti topik. Ternyata gw memang masih kesulitan untuk mengekspresikan emosi mentah-mentah dalam tulisan. I do it better, and faster, in a story. A made-up story with real emotion. Jadi, yah sepertinya itu saja yang akan gw lakukan.
Gw rasa curhat dalam bentuk cerita, atau puisi, paling nyaman buat gw karena gw bisa menyampaikan kebenaran gw sekaligus melihat dari sisi lain, sekaligus bikin itu benaran fiksi kalau dapet ide lanjutan adegan yang seru, atau ada harapan dari gw untuk kejadian/ akhir yang berbeda, yang bahagia. Sementara kalau nulis yang sebenarnya, kayak jurnalis atau berita, kebenaran itu jadi terasa nyata dan mengikat, terutama kebenaran yang ngga enak. Jadi curhat dalam bentuk fiksi seperti menjaga jarak agar gw tidak larut dalam masa lalu dan perasaan tersebut. Gw berkaca untuk pembelajaran tapi tidak tenggelam di dalamnya. Iya, gw rasa itu yang bikin curhat dengan… fakta? terasa engga nyaman buat gw. Sekaligus... engga seru aja? Hahahah
Sip, dapet kan ini postingan satu, tentang perasaan gw juga walaupun ngga dalam seperti yang gw rencanakan dua setengah jam yang lalu. Tapi ya udah, begini dulu ajah.
No comments:
Post a Comment